Hydraulic Bench - Laporan Praktikum Mekanika Fluida

HYDRAULIC BENCH 

ABSTRAK

Penggunaan air sering digunakan oleh masyarakat umum, salah satunya dalam usaha pertanian. Dalam pemenuhannya, maka diperlukan aliran dalam penyaluran air tersebut. Banyak yang harus diketahui dalam mengatur aliran air, salah satunya pengukuran debit. Tujuan dari praktikum hydraulic bench yaitu dapat mengukur debit aliran fluida dengan menggunakan prinsip kerja hydraulic bench dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi debit air dengan menggunakan hydraulic bench. Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu hydraulic bench, stopwatch, kalkulator, lap dan kamera handphone. Bahan yang digunakan dalam percobaan praktikum hydraulic bench yaitu air. Kegunaan dari praktikum hydraulic bench yaitu digunakan sebagai tempat sumber air dan mengatur aliran air untuk mengetahui debit aliran dalam bidang pertanian seperti pembuatan bendungan, saluran irigasi dan saluran drainase. Pada grafik percobaan tanpa NIM dapat dilihat bahwa nilai debit tertinggi diperoleh pada percobaan pertama sebesar 0,00025 m3/s dan nilai debit terendah diperoleh pada percobaan kedua sebesar 0,00015 m3/s. Pada grafik percobaan dengan NIM nilai debit air tertinggi diperoleh pada percobaan pertama sebesar 0,00125 m3/s dan nilai debit terendah diperoleh pada percobaan kedua sebesar 0,00015 m3/s. Hasil pengukuran debit antara perhitungan menggunakan NIM dan tanpa NIM memiliki persamaan hasil diakibatkan melakukan perlakuan yang sama pada tinggi awal dan tinggi akhir aliran volume debit. Dapat disimpulkan bahwa prinsip kerja hydraulic bench dilakukan dengan mengalirkan air dalam suatu debit tertentu melalui pipa terbuka menuju ke penampungan air. Dalam pengukuran terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi debit air diantaranya headloss, gesekan antara fluida dengan pipa dan viskositas suatu fluida.

Kata Kunci: Aliran, Debit, Fluida.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Penggunaan air sering digunakan oleh masyarakat umum, salah satunya dalam usaha pertanian. Dalam pemenuhannya, maka diperlukan aliran dalam penyaluran air tersebut. Dalam hal ini pemenuhan air untuk dialiri ke petak-petak sawah maupun pemenuhan air untuk lahan perkebunan. Aliran  air  pada  sungai atau  rawa  menjadi  sumber  air  yang  dapat digunakan  untuk  keperluan  irigasi  untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman.

Terdapat dua macam aliran fluida yang dapat ditinjau dari mekanika aliran, di antaranya  aliran  dalam  saluran yang dibatasi  oleh  permukaan-permukaan  keras dan aliran sekitar benda yang dikelilingi oleh fluida yang selanjutnya tidak terbatas. Perbedaan ini hanya untuk memudahkan peninjauan saja, sebab gejala dasar dan kelakuan fluida berlaku dari dua keadaan tadi. Karena perkembangannya begitu cepat, maka hidraulika menjadi dasar dari pengelolaan sumber daya air yang merupakan pengembangan dan penggunaan air secara terencana (Putri dan Sriyani, 2017).

Aliran dapat terjadi sebab adanya perbedaan tinggi kedua tempat yang terjadi karena perbedaan elevasi muka air. Aliran melalui pelimpah berupa aliran tidak seragam dengan perubahan aliran terjadi pada jarak yang pendek sehingga disebut sebagai aliran perubahan cepat. Aliran sebelum sampai pada pelimpah juga mengalami perubahan aliran, namun terjadi pada jarak yang panjang sehingga disebut sebagai aliran berubah beraturan. Aliran berubah beraturan (gradually varied flow), dimana parameter hidrolis berubah secara progresif dari satu tampang ke tampang yang lain. Kecepatan aliran disepanjang saluran dapat dipercepat atau diperlambat yang tergantung pada kondisi saluran. Jika diujung saluran terdapat bendung maka akan terjadi profil muka air pembendungan dimana kecepatan aliran akan diperlambat. Sedang apabila terdapat terjunan maka profil aliran akan menurun dan kecepatan akan bertambah (dipercepat). Aliran di dalam sungai biasanya termasuk dalam tipe ini. Aliran berubah cepat, apabila parameter hidrolis berubah secara mendadak dan kadang-kadang pula tidak kontinyu. Contoh dari aliran ini adalah perubahan tampang mendadak, loncat air, terjunan, aliran melalui bangunan pelimpah dan pintu air dan sebagainya. Kehilangan tenaga pada gesekan adalah kecil dibanding dengan kehilangan  tenaga karena turbulensi (Binilang, 2014).

Banyak yang harus diketahui dalam mengatur aliran air, salah satunya pengukuran debit. Pengukuran debit sangat diperlukan karena pengukuran kecepatan aliran bisa dijadikan sebuah alat untuk memonitor fluida suatu kawasan melalui pendekatan potensi sumber daya air pada suatu permukaan yang ada pada suatu aliran. Debit yang dihitung dalam percobaan adalah debit aktual dan biasanya hasil debit  aktual lebih kecil dari pada debit teoritis. Debit aliran diketahui sebagai jumlah volume air yang mengalir dalam waktu tertentu melalui suatu penampang. Pengukuran debit (Q) dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu pengukuran debit secara langsung dan pengukuran debit secara tidak langsung (Fahmiahsan et al., 2018).

Pengukuran debit di lapang terdiri dari pengukuran secara langsung dan pengukuran tidaklangsung. Pengukuran debit secara langsung antara lain pengukuran debit menggunakan current meter, pelampung dan penakaran volume air selama waktu tertentu. Sementara itu, pengukuran debit secara tidak langsung dengan pengukuran debit menggunakan bangunan ukur. Bangunun ukur debit biasanya ditempatkan di saluran primer, saluran sekunder maupun saluran tersier. Bangunan ukur debit biasanya diletakkan tegak lurus terhadap arah saluran (Al Shaikhli dan Kadhim, 2018).

Debit aliran berupa laju aliran air dalam bentuk volume air yang melewati suatu penampang per satuan waktu. Debit aliran diperoleh dengan mengalikan luas tampang  aliran dan kecepatan sebuah aliran. Kedua parameter tersebut dapat diukur pada suatu  tampang lintang (stasiun). Luas tampang aliran diperoleh dengan mengukur elevasi permukaan air dan dasar saluran (Afdhaliah et al., 2017).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka perlu dilakukan praktikum Hydraulic Bench agar dapat mengukur debit suatu aliran fluida dengan menggunakan prinsip kerja hydraulic bench serta dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi debit air dengan menggunakan hydraulic bench.

Tujuan dan Kegunaan Praktikum

Tujuan dari praktikum Hydraulic Bench yaitu dapat mengukur debit aliran fluida dengan menggunakan prinsip kerja hydraulic bench dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi debit air dengan menggunakan hydraulic bench.

Kegunaan dari praktikum Hydraulic Bench yaitu, digunakan sebagai tempat sumber air dan mengatur aliran air untuk mengetahui debit aliran tersebut. Tak hanya itu hydraulic bench juga dapat digunakan dalam bidang pertanian seperti pembuatan bendungan, saluran irigasi dan saluran drainase.

METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Hydraulic Bench dilaksakan pada hari Senin, 13 September 2021, pukul 13.00 WITA sampai selesai di Laboratorium Teknik Tanah dan Air, Prodi Keteknikan Pertanian, Departemen Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu hydraulic bench, stopwatch, kalkulator, lap dan kamera handphone.

Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan praktikum Hydraulic Bench yaitu air.

Prosedur Praktikum

Adapun prosedur kerja praktikum Hydraulic Bench yaitu:

1.        Menyalakan alat hydraulic bench.

2.        Menekan tombol on atau off.

3.        Mengatur kecepatan pada alat.

4.        Menarik tuas dump valve ke atas.

5.        Menghitung debit air setiap 10 detik.

6.        Mencatat hasil pengukuran kedalam tabel.

7.        Mengulangi prosedur ke-5 dan ke-6 sampai mencapai waktu 50 detik.

8.        Mendokumentasikan praktikum.

Rumus yang digunakan

Adapun rumus yang digunakan  dalam praktikum Hydraulic Bench yaitu:

Q = (h1-h0) / t

Keterangan:

Q = debit (liter/sekon)

h1 = tinggi akhir (liter)

h0 = tinggi awal (liter)

t   = waktu (sekon)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 6. Hasil Perhitungan Tanpa NIM

No.

h0 (m3)

h1 (m3)

Waktu (s)

Q (m3/s)

1

0

0,0025

10

0,00025

2

0,0025

0,004

10

0,00015

3

0,004

0,006

10

0,0002

4

0,006

0,008

10

0,0002

5

0,008

0,01

10

0,0002

Tabel 7. Hasil Perhitungan dengan NIM

No.

h0 (m3)

h1 (m3)

Waktu (s)

Q (m3/s)

1

0

0,0125

10

0,00125

2

0,0125

0,014

10

0,00015

3

0,0014

0,016

10

0,0002

4

0,016

0,018

10

0,0002

5

0,018

0,02

10

0,0002

Gambar 8. Grafik Hubungan Antara Debit dan Percobaan Tanpa NIM

Gambar 9. Grafik Hubungan Antara Debit dan Percobaan dengan NIM

Pembahasan

Berdasarkan pada grafik diatas dapat diketahui bahwa, pada pengukuran debit pertama dengan tinggi awal 0 m3 dan tinggi akhir 0,0025 m3 dengan durasi waktu 10 sekon debit air yang dihasilkan adalah 0,00025 m3/s. Pada pengukuran kedua dengan tinggi awal 0,0025 m3 dan tinggi akhir 0,004 m3 dengan durasi 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,00015 m3/s. Pada pengukuran ketiga dengan tinggi awal 0,004 m3 dan akhir 0,006 m3 dengan durasi 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,0002 m3/s. Pada pengukuran keempat dengan tinggi awal 0,006 m3 dan tinggi akhir 0,008 m3 dengan durasi waktu 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,0002 m3/s. Dan pada pengukuran kelima dengan tinggi awal 0,008 m3 dan tinggi akhir 0,01 m3 dengan durasi waktu 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,002 m3/s. Pada grafik percobaan tanpa NIM dapat dilihat bahwa nilai debit tertinggi diperoleh pada percobaan pertama sebesar 0,00025 m3/s dan nilai debit terendah diperoleh pada percobaan kedua sebesar 0,00015 m3/s. Sehingga bisa dikatakan bahwa kecepatan aliran dipengaruhi kondisi saluran. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Binilang (2014) menyatakan bahwa, kecepatan aliran disepanjang saluran dapat dipercepat atau diperlambat tergantung kondisi.

Adapun pada grafik kedua didapat dari hasil perhitungan dengan menambahkan tiga angka terakhir NIM yaitu pada pengukuran debit pertama dengan tinggi awal 0 m3 dan tinggi akhir 0,0125 m3 dengan durasi waktu 10 sekon debit air yang dihasilkan adalah 0,00025 m3/s. Pada pengukuran kedua dengan tinggi awal 0,0125 m3 dan tinggi akhir 0,014 m3 dengan durasi 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,00015 m3/s. Pada pengukuran ketiga dengan tinggi awal 0,014 m3 dan akhir 0,016 m3 dengan durasi 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,0002 m3/s. Pada pengukuran keempat dengan tinggi awal 0,016 m3 dan tinggi akhir 0,018 m3 dengan durasi waktu 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,0002 m3/s. Dan pada pengukuran kelima dengan tinggi awal 0,018 m3 dan tinggi akhir 0,02 m3 dengan durasi waktu 10 sekon, debit air yang dihasilkan adalah 0,002 m3/s. Hasil grafik perhitungan tanpa menggunakan NIM memiliki nilai debit air sama dengan nilai dengan menggunakan NIM yaitu nilai debit air tertinggi diperoleh pada percobaan pertama sebesar 0,00125 m3/s dan nilai debit terendah diperoleh pada percobaan kedua sebesar 0,00015 m3/s. Sehingga dapat diketahui bahwa tinggi suatu fluida dapat mempengaruhi debiat suatu aliran. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Binilang (2014) menyatakan bahwa setiap kenaikan debit aliran (Q) diikuti dengan kenaikan tinggi muka air sebelah hulu ambang dan kenaikan kecepatan aliran dan koefisien debit.

Berdasarkan hasil perhitungan grafik diatas maka dapat diketahui bahwa kecepatan aliran sangat mempengaruhi debit air  karena semakin cepat suatu aliran mengalir maka nilai debit air itu semakin tinggi, hal ini sesuai dengan pernyataan Fahmiahsan et al., (2018) yang menyatakan bahwa ketika air mengalir di suatu tempat terbuka akan mengalirkan air secara bebas dan memiliki tekanan yang sama yaitu tekanan atmosfir. Perubahan aliran yang terjadi berdasarkan dari energi yang ditunjukkan saat debit air dihitung.

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa prinsip kerja hydraulic bench dilakukan dengan mengalirkan air dalam suatu debit tertentu melalui pipa terbuka menuju ke penampungan air untuk mengukur debit yang dihasilkan (debit aktual) dan juga memperhitungkan waktu yang diperlukan oleh debit air dari awal aliran hingga tuas yang diberi beban terangkat karena beban air dalam bak penampung. Faktor-faktor yang mempengaruhi debit air diantaranya headloss, gesekan antara fluida dengan pipa dan viskositas suatu fluida. Hasil pengukuran debit antara perhitungan menggunakan NIM dan tanpa NIM memiliki persamaan hasil di akibatkan melakukan perlakuan yang sama pada tinggi awal dan tinggi akhir aliran volume debit.

DAFTAR PUSTAKA

Afdhaliah, N., Faridah, dan Munir, A. (2017). Analisis Perhitungan Debit Muatan Sedimen (Suspended Load) Pada Daerah Irigasi Lekopancing Kabupaten Maros. Jurnal Agritechno, 10(2), 167–179.

Binilang, A. (2014). Kajian Pengaruh Hubungan Antar Parameter Hidrolis Terhadap Sifat Aliran Melewati Pelimpah Bulat Dan Setengah Lingkaran Pada Saluran Terbuka. Jurnal Ilmiah Media Engineering, 4(1), 55–61.

Fahmiahsan, R., Mudjiatko, & Rinaldi. (2018). Fenomena Hidrolis Pada Pintu Sorong. Jurnal Fakultas Teknik, 5(1), 1–10.

Putri, T. S., dan Sriyani, R. (2017). Analisa Perubahan Debit Terhadap Perubahan Penampang Pada Pipa (Uji Laboratorium). Civil Engineering, 3, 35–39.

Al Shaikhli, H. I. dan Kadhim, K. N. 2018. Development an equations for flow over weirs using MNLR And CFD simulation approaches, International Journal of Civil Engineering and Technology, 9(3), 70–79.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Tabel Hasil Pengamatan Praktikum Hydraulic Bench

Tabel 8. Hasil Pengamatan

No.

h0 (liter)

h1 (liter)

waktu (s)

   1

0

2,5

10

2

2

4

10

3

4

6

10

4

6

8

10

5

8

10

10

Lampiran 2. Menghitung Debit Praktikum Hydraulic Bench

A.    Perhitungan tanpa NIM

Q1   =

      = m3/s

      = 0,00025 m3/s

Q2   =

      =  m3/s

      = 0, 00015 m3/s

Q3  =

      =  m3/s

      = 0,0002 m3/s

Q4  =

      =  m3/s

      = 0,0002 m3/s

Q5  =

      =  m3/s

      = 0,0002 m3/s

B.     Perhitungan dengan NIM

Q1  =

      = m3/s

      = 0,00125 m3/s

Q2   =

      =  m3/s

      = 0, 00015 m3/s

Q3  =

      =  m3/s

      = 0,0002 m3/s

Q4  =

      =  m3/s

      = 0,0002 m3/s

Q5  =

      =  m3/s

      = 0,0002 m3/s

Lampiran 3. Dokumentasi Praktikum Hydraulic Bench.

A.  Dokumentasi Alat Hydraulic Bench.

Gambar 10. Dokumentasi Alat Praktikum Tampak Depan

Gambar 11. Dokumentasi Alat Praktikum Tampak Atas

Keterangan :

1.        Tombol power, berfungsi untuk menyalakan dan mematikan pompa hidrolik.

2.        Kabel, berfungsi penghubung arus listrik dengan tombol Power.

3.        Pengontrol debit, berfungsi untuk membuka dan menutup kran pengeluaran.

4.        Manometer, berfungsi sebagai alat ukur debit air.

5.    Bendung, berfungsi sebagai pembatas untuk meninggikan muka airsampai pada ketinggian yang diperlukan.

6.        Lubang pemasukan, berfungsi sebagai tempat keluarnya air dari pompa hidrolik.

7.     Saluran Olakan, berfungsi sebagai tempat penampungan air sebelum air jatuh ke lubang manometer.

8.        Lubang pembuangan, berfungsi untuk membuang air dari saluran olakan.

9.    Dumb valve, berfungsi sebagai tempat membuka dan menutup pengeluaran air ke bak penampungan.

10.    Volunetrik, berfungsi sebagai tempat penampungan air sebelum sampai ke manometer.

11.    Lubang pengeluaran, berfungsi sebagai tempat keluarnya air ke bak penampung air.

12.  Lubang manometer, berfungsi sebagai tempat penampungan air.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak